BUMN: Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Menerangi Nusantara

Habis gelap, terbitlah terang

Habis terang, eh, malah padam

Bahkan ada yang tidak terang sampai sekarang

Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting dalam kehidupan manusia saat ini, apalagi di era modern yang penuh perubahan di mana hampir semua aktivitas manusia berhubungan dengan energi listrik, mulai dari pendidikan, pemerintahan, rumah tangga bahkan sampai pertanian. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi penduduk di Indonesia yang semakin tinggi maka permintaan akan energi listrik juga meningkat. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah agar dapat memenuhi kebutuhan listrik masyarakat yang semakin lama semakin meningkat. Indonesia merupakan negara yang sangat kaya jika ditinjau dari segi sumber daya alam.

Di Indonesia, listrik dapat diperoleh melalui pemanfaatan energi dari berbagai hal, misalnya tenaga geothermal, air, angin, batu bara, gelombang laut bahkan nuklir, yang saat ini sedang dikembangkan.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk sekitar 237.641.326 tersebar di 34 Provinsi. Dengan populasi tersebut Indonesia menempati posisi keempat sebagai negara dengan jumlah penduduk tertinggi di dunia. Pulau Jawa merupakan pulau dengan kepadatan tertinggi di dunia dengan penduduk sekitar 141 juta jiwa. Jumlah ini setara dengan 59,3% total penduduk Indonesia. Padahal, luas Pulau Jawa hanya 6,68% dari luas total daratan Indonesia. Jika dibandingkan dengan Pulau Papua yang memiliki luas 21,7% dari luas total Indonesia, pulau tersebut hanya ditempati oleh  2,8  juta jiwa, setara dengan 1,2% jumlah total penduduk Indonesia. Hal ini menunjukan masih kentalnya sentralisasi di Indonesia.

Indonesia memiliki 235 pembangkit listrik yang dimiliki oleh PT. PLN atau mitra kerjanya yang energinya berasal dari tenaga thermal (138 pembangkit listrik), geothermal (19 pembangkit listrik), dan tenaga air (88 pembangkit listrik). Total energi yang diproduksi pembangkit listrik dalam negeri adalah 163.965,75 GWh atau sekitar 75,84% dari total kebutuhan listrik di Indonesia. PT. PLN juga membeli listrik sebesar 52.222,79 GWh atau sekitar 24,16% dari total kebutuhan listrik di Indonesia. Pembangkit listrik di wilayah Sumatera memiliki daya mampu sebesar 3.275,57 MW, sedangkan Pulau Jawa memiliki pembangkit listrik dengan daya mampu 24.265,11 MW. Jika dibandingkan, maka pembangkit listrik di wilayah Jawa menanggung 172 watt per kepala, sedangkan pembangkit listrik di wilayah Sumatera menanggung 84 watt per kepala atau kurang dari setengah rasio jika dibandingkan jumlah kapita per kepala di Pulau Jawa.

Sekitar 84% wilayah di Indonesia sudah dialiri listrik. Meskipun sudah 84% wilayah di Indonesia dialiri listrik, banyak masyarakat masih kesulitan untuk mendapatkan listrik tersebut karena jumlahnya yang minim dan tidak tersebar secara menyeluruh. Disamping belum menyeluruhnya jangkauan listrik di seluruh wilayah Indonesia, problematika mengenai kelistrikan di Indonesia adalah sering terjadinya pemadaman listik. Padamnya listrik menyebabkan terhambatnya aktivitas warga dan juga aktivitas industri sehingga sering muncul berbagai tuntutan dan aksi dari warga yang berada di wilayah yang sering terjadi pemadaman listrik tersebut. Penyebab pemadaman listrik yang kerap terjadi adalah; 1) pemeliharaan terencana dan pemasangan gardu baru yang kerap terjadi di daerah Jambi Luar Kota, Muaro Jambi. Pemadaman ini merupakan pemadaman yang sengaja dilakukan oleh PT. PLN. 2) Pemadaman tidak disengaja karena gangguan, misalnya pohon yang tumbang lalu menimpa media penyaluran listrik, binatang liar, bahkan dari materialnya sendiri yang rusak atau putus, angin kencang, hujan, atau pemakaian lebih dari daya mampu atau yang telah ditentukan. Untuk pemadaman yang tidak disengaja, terkadang masyarakat menjadi dalang pemadaman, misalnya, pemakaian listrik yang lebih dari daya mampu atau yang telah ditentukan, pepohonan warga yang menganggu aliran listrik, dan lain sebagainya.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah suatu badan milik Pemerintah Republik Indonesia yang merujuk pada perusahaan atau perseroan yang dimiliki oleh negara. Umumnya, BUMN merupakan perusahaan yang bersifat memihak ke rakyat sipil. Perusahaan Listrik Negara adalah sebuah BUMN yang mengurusi semua aspek kelistrikan yang ada di Indonesia. Namun dewasa ini, banyak keluhan dari masyarakat yang terdengar mengenai kinerja PLN yang kurang memuaskan bagi masyarakat yang umumnya berada di daerah yang sedang berkembang di Nusantara. Pandangan tersebut dikarenakan sering terjadinya pemadaman listrik secara mendadak ataupun dijadwalkan oleh pemerintah khususnya pada daerah yang masih belum mempunyai sumber energi listrik sendiri. Padahal pada era perubahan ini, listrik sangat berpengaruh besar terhadap kelangsungan dalam berbagai aspek dan kemajuan pembangunan.

Di Provinsi Jambi, gangguan pelayanan pemerintah dalam bidang yang bersangkutan dengan BUMN masih sering dialami masyarakat. Padahal, Provinsi Jambi memiliki kekayaan yang sangat melimpah; misalnya Sungai Batanghari, gas alam, geothermal, gelombang dan angin laut, kelapa sawit dan Danau Kerinci. Namun, sampai sekarang pemanfaatan sumber daya alam tersebut belum maksimal sebagai pembangkit listrik. Yang memprihatinkan adalah, di Provinsi Jambi sendiri sering terjadi pemadaman listrik yang tidak tentu kalanya sehingga menggangu proses pembelajaran, produksi, dan berbagai insiden yang sangat bergantungan dengan energi listrik. Dengan segala kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Provinsi Jambi dan beberapa Provinsi yang sedang berkembang lain, jika dimaksimalkan dapat meningkatkan segala aspek dan bidang, baik dalam segi infrastruktur, pendidikan, pembangunan dan ekonomi yang tentunya dapat meningkatkan kualitas BUMN khususnya PLN, sehingga BUMN dapat bersaing dengan perusahan luar di kancah intenasional dan menjadi agen pembangunan di berbagai bidang.

Jambi adalah salah satu provinsi yang terletak di Pulau Sumatera dengan jumlah penduduk sekitar 3.168.637 jiwa dan luas wilayah 53.435 km2. Penyaluran listrik di Jambi menerapkan sistem interkoneksi Sumatera, dimana listrik di Provinsi Jambi merupakan listrik yang berasal dari beberapa Provinsi di Pulau Sumatera, dan listrik yang diproduksi di Provinsi Jambi dialirkan pula ke beberapa Provinsi di Pulau Sumatera. Untuk Kota Jambi dan sekitarnya beban puncak pada siang hari mencapai 125-130 MW dan pada malam hari mencapai 170 MW. Yang menarik adalah kita dapat menyimpulkan betapa pesatnya permbangunan di Provinsi Jambi khusunya di Kota Jambi dan sekitarnya, karena pada tahun 2006 beban puncak Kota Jambi hanya sekitar 70 MW, namun meningkat lebih dari 100% hanya dalam kurun waktu sembilan tahun. Dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan Provinsi Jambi maka diperlukan pula peningkatan jumlah pembangkit lisrtik untuk Jambi. Provinsi Jambi sendiri memiliki dua pembangkit listrik tenaga gas yang terletak di Payo Selincah dan Sungai Gelam dengan total daya mampu 300 MW. Jika ditinjau, daya mampu kedua PLTG tersebut melebihi beban puncak, namun karena sistem interkoneksi Sumatera daya tersebut harus didistribusikan ke daerah lain. Bahkan, masih ada daerah di Provinsi Jambi yang dekat dengan Kota Jambi yang belum mendapat distribusi listrik lantaran daerahnya isoletik (lepas dari sistem transmisi), misalnya di daerah Tanjung Jabung Barat dan Batanghari.

Mengacu pada sistem interkoneksi Sumatera, Provinsi Jambi juga mendapat pasokan listrik dari Sumatera Selatan dan Sumatera Barat. Namun jika terjadi kerusakan pada salah satu dari pembangkit listrik di Sumatera, maka listrik akan terputus, hingga terjadi blackout. Jika saja Provinsi Jambi tidak hanya mengandalkan pada sistem interkoneksi Sumatera, namun juga mendirikan pembangkit listrik mandiri sehingga jika terjadi blackout dapat segera ditanggulangi dan jika terjadi pemadaman—entah itu pemadaman disengaja atau tidak disengaja, aktivitas dapat tetap berjalan dengan adanya pembangkit listrik cadangan.

Dari berbagai macam kekayaan Provinsi Jambi, dapat dibangun beberapa pembangkit listrik, diantaranya;

  1. Pembangkit listrik tenaga air yang dapat dibangun di Sungai Batanghari dan Danau Kerinci. Pembangkit listrik di Sungai Batanghari dapat dibuat dengan cara membuat sebuah sistem pengairan seperti bendungan untuk menampung aliran air dari Sungai Batanghari yang merupakan sebuah sungai yang sudah memasuki stadia tua dengan ditandai banyaknya terjadi meandering dan arus yang mulai melambat. Arus yang melambat ini dapat dimanfaatkan dengan membendungnya lalu mengalirkannya setelah melewati kincir atau turbin yang dirancang untuk menyerap energi yang dihasilkan dari energi mengalirnya air sungai tersebut. Danau Kerinci yang terletak di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi dengan luas 46 km2 dan volume air 1,6 km3 terletak setinggi 710 m di atas permukaan laut yang berkemungkinan mempunyai gerak seiche yang cukup besar untuk dijadikan pembangkit listrik. Sebagai contoh danau yang dijadikan sumber energi listrik yaitu Danau Singkarak yang mempunyai luas 120 km2 dan kedalaman 150 meter serta memiliki satu saluran yaitu mengalirkan airnya melalui sungai Ombilin, kemudian melewati Sungai Indragiri dan bermuara di Selat Malaka. PLTA ini menggunakan air Danau Singkarak sebagai sumber penggerak turbinnya, saluran masuk In-take dam PLTA ini berada di daerah kabupaten Tanah Datar. PLTA Singkarak memiliki kapasitas terpasang 4 x 43,75 megawatt (175 MW), dan Danau Maninjau yang merupakan salah satu pembangkit listrik bertenaga air, yang berada di kabupaten Agam, Sumatera Barat. PLTA ini menggunakan air Danau Maninjau sebagai sumber penggerak turbinnya, saluran masuk In-take dam PLTA ini berada di daerah Muko-muko, dengan kapasitas terpasang 4 x 17 megawatt (68 MW) dan daya mampu PLTA Maninjau sebesar 68 MW. Danau Kerinci berkemungkinan juga dijadikan pembangkit listrik meskipun jumlah daya yang mungkin dihasilkan tidak sebesar PLTA Danau Singkarak, namun setelah dijadikan pembangkit listrik perlu juga dijaga potensi kebersihan di danau tersebut karena faktor kebersihan sering menjadi problematika jika dibangun PLTA dari sebuah danau ataupun bendungan.
  2. Pembangkit listrik tenaga surya, karena Provinsi Jambi merupakan daerah dengan intensitas cahaya matahari yang cukup besar, sehingga berkemungkinan dapat dibangun pembangkit listrik tenaga surya yang mana kita telah ketahui bahwa panas dari matahari tidak terbatas dan walaupun itu habis berarti matahari sudah berubah menjadi bintang kerdil karena reaksi fusi yang telah berhenti disebabkan oleh kadar hidrogen di matahari telah habis. Salah satu contoh pembangkit listrik tenaga surya yaitu terletak di Pulau Bali, tepatnya di dearah Karangasem dan Bangli, dengan kapasitas 2 x 1 MW. Daya mampu yang dihasilkan memang tidak terlalu besar, namun cukup untuk memasok listrik ke beberapa desa isoletik dengan pelayanan khusus, berupa subsidi atau pengurangan dana penggunaan listrik, karena masyarakat yang tinggal di daerah isoletik relatif hidup dibawah garis kemiskinan.
  3. Pembangkit listrik tenaga angin yang dapat dibangun di sekitar daerah Kuala Tungkal yang secara geografis dekat dengan laut dan dekat pula dengan khatulistiwa, yang berarti memiliki kecepatan angin yang cukup kencang sehingga dapat dimanfaatkan untuk menggerakan kincir sehingga dapat dijadikan pembangkit listrik tenaga angin. Daya yang dihasilkan mungkin tidak terlalu besar, hanya beberapa belas megawatt, namun karena letaknya di daerah Tanjung Jabung, pembangkit listrik tersebut dapat menjadi sumber listrik bagi daerah isoletik.
  4. Pembangkit listrik tenaga geothermal yang berarti pembangkit listrik yang bersumber dari panas bumi. Wilayah Jambi mempunyai cakupan wilayah geothermal yang cukup luas, misalnya di Kabupaten Kerinci dimana terdapat Gunung Kerinci yang di dalamnya mengandung panas bumi yang berasal dari magma dan di atas daerah tersebut terdapat sumber air sehingga dapat terbentuk
  5. Pembangkit listrik yang berasal dari limbah cair kelapa sawit yang apabila dibiarkan begitu saja akan berdampak buruk bagi lingkungan, karena setiap limbah kelapa sawit mengandung gas metan (CH4) dan karbon dioksida (CO2), keduanya merupakan gasrumah kaca yang tentunya jika tidak dikontrol dapat menyebabkan hal yang berdampak buruk dan apabila terjadi kebakaran di daerah Provinsi Jambi maka akan sulit untuk dipadamakan, karena menurut peta geologi, daerah Jambi merupakan daerah fluvial yang berarti daerah yang tanahnya mengandung banyak lahan gambut sehingga sulit untuk dipadamkan jika terjadi kebakaran. Saat ini sudah ada pihak swasta di Jambi yang mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit, yaitu PT Rimba Palma dengan daya mampu 10 MW. Tentu, jika saja BUMN turut andil dalam pengolahan limbah kepala sawit, maka daya mampu akan lebih maksimal.

Dari beberapa gagasan yang diajukan oleh penulis tentang pembangkit listrik, tiga diantaranya merupakan energi yang tidak terbatas yaitu, energi geothermal, energi angin, dan energi surya, yang mana telah kita ketahui bahwa hal tersebut adalah kekayaan alam Provinsi Jambi yang masih kurang maksimal pemanfaatannya. Seandainya beberapa pembangun pembangkit listrik yang telah diuraikan dapat terealisasikan baik oleh pemerintah maupun pihak swasta berkemungkinan besar dapat mengatasi daerah yang isoletik di Provinsi Jambi, juga fenomena listrik padam yang kerap terjadi dan mengganggu aktivitas, sehingga daerah-daerah yang belum menjangkau listrik sebelumnya dapat merasakan begitu besarnya manfaat dari listrik dan fenomena pemadaman listrik akan berkurang sehingga masyarakat akan senang dan pasti akan terus berkarya pada segala sektor baik dalam pendidikan, industri, maupun pertanian. Hal tersebut dilakukan guna memajukan perekonomian di Provinsi Jambi yang berdampak kepada kemajuan perekonomian di Indonesia sehingga banyak investor yang akan tertarik untuk menanamkan sahamnya di negeri kita tercinta ini.

Namun, permasalahan yang dialami oleh Provinsi Jambi untuk mewujudkan itu semua yaitu dari sangat minimnya fasilitas dan tenaga ahli, oleh karena itu tidak salah Provinsi Jambi ataupun Indonesia mengundang investor asing untuk menamkan sahamnya di wilayah kita, tapi dengan batasan waktu yang tidak terlalu lama. Maksud dari diberikan pembatasan waktu yang tidak terlalu lama yaitu para investor asing yang akan menanamkan sahamnya di Provinsi Jambi diberi batas kontrak, misalnya selama 2 tahun untuk melakukan proyeknya. Sembari investor asing menyelesaikan proyeknya pemerintah seharusnya mengumpukan ataupun mencetak ahli-ahli dari segala bidang yang berasal dari anak bangsa, karena telah kita ketahui sebenarnya banyak dari anak bangsa yang mempunyai prestasi dan pemahaman yang lebih tentang pembangkit listrik apalagi pada era perubahan ini, pastinya banyak inovasi yang telah dipikirkan oleh anak bangsa, namun kurangnya apresiasi dari pemerintah akan prestasi tersebut menyebabkan banyaknya para penemu yang berasal dari Indonesia merasa kurang dihargai jika mempublikasikan inovasinya di negeri sendiri sehingga mereka mepublikasikannya di negara lain. Akibatnya negara lain lah yang memiliki hak paten dari penemuan ataupun gagasan yang sebenarnya dikemukakan dan dihasilkan dari pikiran dan tangan anak bangsa.

Setelah pemerintah mengumpulkan dan mencetak para ahli dalam segala bidang dan telah berakhirnya masa proyek investor asing yang berada di Provinsi Jambi, maka segala proyek yang sebelumnya dikerjakan dan didirikan oleh investor asing dapat diambil alih oleh anak bangsa yang telah ahli dalam bidangnya masing-masing. Sehingga Provinsi Jambi tidak akan kekurangan listrik lagi bahkan dapat mensuplai listrik ke wilayah lain, dan tidak menutup kemungkinan wilayah lain juga dapat terobsesi dengan kemajuan di Provinsi Jambi dan mengikuti langkah sukesnya. Dampak jangka panjang jika saja listrik dapat mensuplai menyeluruh di Provinsi Jambi bahkan di Indonesia adalahlebih majunya negara Indonesia dalam segala bidang karena listrik merupakan elemen penting dalam setiap kegiatan di era globalisasi, terutama dalam hal produksi. Bidang pendidikan pun kini bergantung pada listrik, karena media pengajaran guru kini menggunakan energi listrik.Tentunya, hal ini dapat terjadi jika saja BUMN menjadi agent of changeatau agen perubahan, terutama di bidang produksi listrik.

Dalam mengekpolorasi sumber daya alam untuk dijadikan pembangkit listrik, tentu BUMN tidak dapat sepenuhnya berdiri sendiri. Diperlukan mitra kerja dalam suksesnya pembangunan pembangkit listrik—terutama di daerah isoletik dan daerah langganan pemadaman listrik—baik itu pihak swasta, maupun dari komponen masyarakat sendiri. Karena pada akhirnya, bentuk dari terealisasikannya pembangkit listrik tersebut adalah pemerataan distribusi listrik, daerah isoletik teraliri listrik, dan tidak terhambatnya atau cepat diantisipasinya pemadaman listrik akibat sistem interkoneksi Sumatera, jika saja Provinsi Jambi punya pembangkit listrik cadangan. Dengan begitu, produktivitas masyarakat dapat meningkat dan tidak terhambat.

Listrik dan PT PLN erat kaitannya di Nusantara.

Listrik dapat pula dijadikan simbolisme kemajuan suatu negara.

Listriklah yang membuat produktivitas menggila.

Tekstil. Pendidikan. Pekerjaan. Pabrik. Semua butuh listrik sebagai sarana utama.

Jika saja BUMN, khususnya PT PLN dapat memaksimalkan pembangunan pembangkit listrik sehingga distribusi listrik merata,

… tentu, kemajuan ibu pertiwi sedekat pelupuk mata.

 

Daftar Pustaka

Dupe, Zadrach L, dkk. 2012. Materi Persiapan Olimpiade Ilmu Kebumian. Jakarta: Bina Prestasi Insani.

Harmanto, Gatot. 2008. Geografi Biligual.  Bandung: Yrama Widya.

Kemendiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

MCA-Indonesia | Versi 01 – 1 Juni 2014- Pembangkit Listrik dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Purba, Antilan. 2008. Essai Sastra Indonesia Teori & Penulisan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

http://www.pln.co.id/dataweb/STAT/STAT2013IND.pdf

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_power_stations_in_Indonesia

http://listrik.org/

www.bps.go.id

 

 

 

 

 

 

Iklan